Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Selasa, 11 Oktober 2016
Jumat, 29 Juli 2016
Minggu, 24 Juli 2016
Senin, 01 Februari 2016
Jumat, 24 Juli 2015
Gado-Gado We're in Love - Fajar Ütomo
In one of big cities of this our beloved country, there was a man who was busy to spend his youth to stand on the sidewalk to sell food. Let’s just call him Mr Patient. He was only a college student who made his living by selling that meal. He went home after school then he opened his stand on sidewalk under the board daylight. He did that in order to pay his school fee and to cure his ill mother who had been lying on her bed for six months. He didn’t bring her to hospital because of the lack of money. Then finally he had decided to sell food. But nobody knew about his thought was. In this modern time like this, why did he still sell traditional food? Who wants to still eat traditional food today? Then, what kind of food was it?
Senin, 01 Juni 2015
Prompt #79 - Surga ke-9
“Inikah Euroworld yang kauceritakan itu?” tanyaku antusias. Mataku hijau disuguhkan pemandangan taman surga yang indah. Suara gesekan dedaunan dan gemericik air di sungai mendamaikan jiwaku. Alangkah pemandangan yang belum pernah ku lihat sebelumnya.
“Benar. Inilah dia. Ini tempatnya, surga yang telah tertulis dalam firman Tuhan di kitab suci. Di sinilah, kita bisa begitu dekat dengan Tuhan. Inilah Euroworld, surga ke-9 yang telah dijanjikan-Nya. Tidakkah kau merasakannya, Sayang?” sahutnya lemah lembut.
Aku tersenyum mendengarnya. Sedang tangannya membelai halus kepalaku sembari berkata;
“Di sini kita akan hidup bahagia, Sayang. Takkan ada lagi kejahatan. Tak ada lagi bajingan yang berdosa atas nama agama. Tak ada lagi orang-orang yang mengenyangkan perutnya sendiri. Tidak akan ada lagi mereka si tukang caci dan gunjing. Tidak ada lagi orang yang memaksakan keyakinan dan standarisasi kebenarannya pada kita. Tidak akan ada orang yang menghina kita kafir atau sesat.”
“Tidak ada lagi?”
“Tidak.”
“Lantas, di mana mereka sekarang? Bagaimana jika mereka menyusul kita ke sini?”
“Tidak mungkin. Mereka masih di dunia. Dan nanti pun, mereka akan dikirim ke neraka, ke tempat serendah-rendahnya, seperti yang sudah dijanjikan Tuhan. Jangan kau gundah akan mereka. Lupakan mereka. Lupakanlah dunia kita yang lama. Di sini kita bahagia, Sayang. Di sini kita bersahaja.”
Aku mengangguk lemah, menyenderkan kepalaku di bahunya. Lalu kami memejamkan mata sambil berkasih-kasihan. Semilir angin menghembus pelan, menambah nikmat anugerah Tuhan ini; Euroworld, surga ke-9.
“Bukankah penghuni surga punya pelayan?” tanyaku lagi.
“Tentu. Kaulihat orang di sana?” Tangannya menunjuk dua makhluk berparas indah sedang berdiri memandangi kami. Pakaiannya serba putih dan ada hiasan di salah satu kepala dari mereka. Dengan ramah, mereka melambaikan tangan pada kami.
“Siapa mereka?”
“Pelayan kita, bidadari dan bidadara.”
Mereka tersenyum pada kami. Lalu berbisik satu sama lain.
***
“Lebih baik bukan, Suster?”
“Iya, Dok. Mereka jauh lebih tenang.”
“Bagus. Memang lebih baik mereka disatukan.”
Keduanya tersenyum.
Dunia, 1 Juni 2015
Prompt #79 Monday FlashFiction “Euroworld” 300 kata
Minggu, 29 Maret 2015
Soir de Paris - Fajar Utama (Cerita Pendek)
Cerpen 2000 kata yang nggak jelas yang sok ke-Prancisprancis-an. Siapapun yang membaca, mohon kritik, saran, hinaan, dan caci maki serta pembenaran tata bahasa dalam percakapan bahasa Prancisnya. Merci!
Kamis, 30 Januari 2014
Songfiction 'Rose - Lee Hi'
Matahari masih enggan bersinar. Namun langit mulai
terang. Itulah tanda gerangan fajar menjelma. Semalam hujan mengguyur kota ini.
Bau basah bercampur bau obat-obatan menyiksa hidungku yang tengah sulit
bernafas ini. Darah bening masih mengalir deras di pipiku. Begitu pun dengan adikku.
Tangisannya memecah kesunyian lorong
rumah sakit di subuh hari.
Telinga kami bagai ditusuk sebilah pedang. Hati kami
bagai diiris. Otak kami beku. Seketika tingkah kami berubah. Layaknya bayi yang
tak tahu harus berbuat apa. Hanya menangis. Hanya menangis yang kami bisa saat
kami dengar ucapan dokter muda itu . . .
“ Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun,
Tuhan punya rencana lain . . Maafkan kami “ ucapnya dengan wajah pucat pasi.
Penyesalan yang begitu dalam terpancar di wajahnya.
Sudah dua kali air mata kami tumpah karena
ucapannya. Hari ini dan beberapa hari yang lalu. Saat kali pertama kami
menginjakkan kaki di rumah sakit nan mewah ini. Rumah sakit yang katanya
terbaik di negara ini. Namun apa daya, sebaik apapun pelayanan di sini, ibuku
tetap pergi.
*Rose*
“ Kami sudah
melakukan uji sinar x pada lambung ibu kalian. Kami menemukan sesuatu yang
aneh. Mirip seperti bunga mawar. Berikut dengan tangkainya yang masih berduri .
. “ jelasnya.
“ Apa ?! Bunga mawar ? Tangkai berduri ? Tidak
mungkin . . “ spontan adikku memotong.
Kaget. Jelas kami kaget. Bagaimana mungkin bunga
mawar dengan tangkainya yang masih berduri bisa masuk ke dalam organ pencernaan
ibu kami ? Bukankah ini semua tidak masuk akal ? Tidak dapat diterima akal
sehat ? Pikiran ku melayang ke mana-mana. Hatiku masih tak percaya.
“ Ya, bunga mawar. Dengan tangkai berduri. Bukan
cuma satu, bahkan hingga belasan. Kami akan segera menunjukkan gambarnya pada
kalian. Tapi . . sebelumnya . . . apakah ibu kalian suka mengonsumsi
benda-benda aneh ? “ tambah dokter muda itu.
Yaa Tuhan, apa maksudnya ini ? Mulutku terbuka
lebar. Tak habis pikir dengan semua peristiwa ganjil yang menimpa keluargaku,
terutama ibuku. Sungguh kasihan dia. Diumurnya yang sudah uzur, malah ditimpa
kesusahan macam ini. Adikku tak mampu menahan tangisnya. Wajah cantiknya pudar
seketika.
“ Tak mungkin !! Ibuku bukan orang gila ! Ia manusia
normal ! Makan nasi serta minum air ! “ bentaknya pada dokter muda itu sambil
terisak. Sementara aku hanya diam
meski air mataku menetes.
*Rose*
Pagi itu mendung. Dirgantara seolah ikut berduka. Adikku mencoba menghubungi seluruh
sanak saudara kami di lain kota. Sementara aku memilih untuk memberitakannya kepada Rose, kekasihku. Hanya
dia tujuanku. Mobilku melaju di jalan yang basah.
Sesampainya di rumahnya, aku mendapatinya tengah
berdiri di antara kebun kecil yang ditumbuhi bunga mawar merah dengan subur. Gaun
merah menambah kecantikannya pagi ini. Aku segera menghampirinya. Memeluknya
seraya menangis di pelukannnya.
“ Rose . . Ibuku telah tiada . . “ suaraku lirih.
Wajahnya datar. Ia melepas pelukanku. Tak setitik pun air nampak di matanya.
Kesedihan tak muncul. Rasa iba tak menjelma jadi tangisan.
“ Tidakkah kau sedih ? “ ku tahan tangisanku.
Selepasnya ia hanya tersenyum kecil.
“ Untuk apa? Aku senang. Tak ada lagi orang yang
menghalangi pernikahan kita . . “ cetusnya seperti tak berdosa.
“ Apa kau bilang ? Kau senang dengan kepergian ibuku
?! Kekasih macam apa kau ini ? “ balasku pedas.
Kemarahan menyelimuti diriku. Menutupi hatiku.
Meracuni pikiranku. Aku tak peduli. Ia membalik badannya seraya berjalan
menjauhi ku, menelusuri mawar-mawar merah itu.
“ Bukankah aku sudah pernah berkata padamu ? Namun
kau masih saja dengan pendirianmu. Mencintaiku bukan hal yang menyenangkan “
desisnya dengan nada datar.
Angin pagi yang dingin bertiup kencang. Rambutnya
yang cokelat kehitam-hitaman berkibar dengan pasrahnya. Gaun merahnya yang
menawan melambai-lambai. Suara gemerisik daun yang beradu dihiasi suara
merdunya yang ia perdengarkan. Lagu itu . . lagu yang sering kali ia nyanyikan.
Lagu yang belum ku mengerti apa intinya.
“ Nae sarangûn saeppalgan Rose
Jigûmûn arumdab getjiman
Nal karo un gasiro nol apûge halgol . . “
Aku hanya diam. Diam seribu bahasa. Tak mampu
berbuat apapun jua. Tak mampu berkata apa-apa.
“ Every Rose has its thorn . . . Every Rose has its
thorn . . Every Rose has its thorn “
Suaranya lembut, namun terdengar menyeramkan. Membuat
bulu kudukku berdiri tegak. Kepalaku tak mau diam. Pening. Dunia terasa
berputar begitu kencang. Ku tutup telingaku rapat-rapat. Ku rasakan sesuatu
mengalir di hidungku. Menerobos barisan kumis tipisku. Dan bermuara di bibirku.
Darah, aku berdarah. Segera ku seka dengan tanganku. Cukup banyak ternyata.
“ Aku harus pergi . . Aku harus mengurus prosesi kremasi jenazah ibuku . . “
ucapku pada Rose.
Ku langkahkan kakiku keluar dari halaman belakang
rumahnya yang basah. Meninggalkannya seorang diri. Meninggalkan kebun mawar
merah itu. Meninggalkan nyanyiannya yang membuat ku berdarah.
*Rose*
“ Yang pernah ku dengar . . orang bilang rumah itu
sudah kosong sejak beberapa bulan yang lalu “ ucap pria tua itu.
Sontak membuat ku kaget. Jelas-jelas penghuninya
masih sering ku temui, bagaimana ceritanya kosong ?
“ Benarkah ? Tapi kekasihku tinggal di sana. Aku
mengunjunginya hampir setiap minggu
. . “ tegasku.
Pria tua itu menyeritkan dahinya pertanda bingung.
Mulutnya menganga. Tatapan matanya seolah tak percaya.
“ Benarkah nama kekasihmu ialah Rose ? “ tanya pria
itu seolah khawatir.
“ Ya, benar. Dari mana anda tahu pak tua ? “ aku
berbalik bertanya.
Kebingungan menyergap ku. Rasa khawatir menyelimuti
hatiku. Namun rasa tak percaya lebih kuat dari segalanya.
“ Ya Tuhan ! Pergilah ! Jangan dekati aku ! Pergi
dari sini ! “ ujar pria tua itu sambil mendorong tubuhku.
Wajahnya berubah drastis. Putih pucat. Ekspresi ketakutan
merajai wajahnya. Ia pergi terburu-buru. Badannya yang bongkok membuat ku iba.
Apa yang membuatnya menjadi takut padaku ? Ku tarik tangannya yang kurus.
“ Tunggu pak tua .. Tunggu . . Kenapa kau takut
padaku ? A . . apa . . apa yang salah dengan . . semua ini . . ? “ kataku
berbata-bata.
Ia mengelak. Ia berontak. Seolah tanganku penuh
najis. Ia enggan menyentuhnya.
“ Ku mohon . . lepaskan aku ! “ ia memohon.
“ Jelaskan terlebih dulu apa yang terjadi padaku !
Pada Rose ! “
“ Jangan sebut nama itu ! “
“ Kenapa kau begitu membenci Rose ? Apa yang telah
dia perbuat padamu ? “
“ Sungguh kau ingin tahu ?! Kau ingin tahu ?! Dia
membunuh putraku ! Putraku satu-satunya ! “ ujarnya dengan nada marah.
Rose ? Membunuh ? Benarkah itu semua ? Benarkah ?
Telingaku terasa panas. Jantung ku berdegup kencang. Keingin tahuanku bertambah
besar. Membuatku lebih dalam lagi mengorek informasi.
“ Membunuh ? Bagaimana mungkin ? “ tanyaku penasaran
seraya menyeritkan dahi.
Wajah pria tua itu berubah lagi. Tangisannya pecah.
Sungguh pria tua yang malang. Nafasnya memburu menahan sesak di dadanya. Tak bisa ku bayangkan
betapa perih luka di hatinya.
“ Ada sisinya yang tak kau ketahui . . Dia bukan
perempuan baik-baik . . “ jawabnya sambil terisak.
“ Maksud anda? Aku tak begitu paham . . “
“ Dia itu wanita peniup pada buhul-buhul . . Ia
tukang guna-guna !! “ jeritnya memecah suasana malam. “ Kau pikir bagaimana
bisa putraku mati ? Padahal ia manusia normal . . “ tangisannya makin menggema.
“ Aku . . tak . . paham . . “
“ Mawar merah ! Berduri ! Menyarang di perutnya !
Wanita jalang itu menjadikanku sebatang kara ! Dia itu bukan manusia. Dia iblis
! “ caci maki pria tua itu hingga suaranya serak nyaris menghilang.
Mawar merah berduri menyarang di perut putra pria
tua itu ? Semuanya seperti yang terjadi pada ibuku. Apa maksud ini semua? Mengapa aku
selalu ditimpa peristiwa ganjil ? Rose ? Benarkah ia ? Jika begitu . . dialah
pembunuh ibuku. Ya Tuhan, entah di mana harus ku letakkan rasa percayaku.
“ Jangan kau kira dia tak mendengar percakapan kita
. . Dia mendengarnya meski ia tak di sini . . “ ujarnya setengah berbisik.
Kemudian berteriak lagi. “ Rose ! Jika kau mau . . bunuhlah aku ! Kini aku tak
lagi takut padamu ! Bunuh aku, Rose ! “ Kini tawanya menggelegar. Layaknya
orang gila. Pria tua itu terlihat begitu aneh.
“ Sudah lah .. Biar ku antar anda pulang pak tua . .
“ bujukku sambil menuntunnya masuk ke mobilku.
Aku pun mengantarnya pulang.
*Rose*
Ku rasakan telapak tangan dingin mengelus keningku.
Suara tangisan yang begitu ku kenal. Panca inderaku mulai bekerja. Meski mataku
masih enggan. Ku paksakan. Ku paksakan membukanya lebar-lebar. Segalanya buram. Aku tak mampu melihat
dengan jelas. Yang ku tahu hanya wajah adikku yang basah.
“ Di mana aku ? “ tanyaku.
“ Kakak . . . Puji Tuhan, kau masih hidup . . “
ujarnya tanpa menjawab pertanyaanku.
Aroma yang sebelumnya pernah ku cium. Aroma
obat-obatan. Jelas sekali. Tempat ini ialah rumah sakit. Aku berbaring di atas
ranjang yang empuk. Entah apa yang mengantarkan ku ke sini. Aku tak ingat. Saat
ku coba mengingatnya, kepalaku terasa begitu sakit.
Beberapa jam kemudian, keadaanku mulai membaik. Aku
sudah mampu duduk, aku bosan terus berbaring. Aku bukan anak kecil. Aku bukan
orang lumpuh. Aku bukan orang yang malas.. Aku memaksa adikku bercerita apa
yang terjadi padaku. Meski awalnya ia enggan, akhirnya ia bersedia. Setelah itu, aku dapat mengingat segalanya.
Memori otakku kembali pulih.
Malam itu, malam di mana aku mengantar pria tua itu
pulang. Aku kehilangan kendali atas mobilku. Seperti mobilku miliki pikirannya
sendiri. Di perempatan jalan, kecepatannya kian bertambah. Padahal lampu sedang
merah. Tak ku sangka di depan mobilku tiba-tiba saja muncul sebuah truk besar.
Mobilku menabrak truk itu.
Meski sebelumnya ku coba menghindar. Bagian kanan mobilku berbentur dengan ban
truk yang begitu besar. Kacanya pecah. Menancap di kepala pria tua itu.
Sementara truk itu terguling. Menimpa mobilku, aku, serta pria tua itu.
Barang bawaan truk itu tumpah ruah di jalan yang
licin. Bunga mawar merah berserakan di jalan. Truk itu mengangkut berkilo-kilo
bunga mawar merah dari perkebunan mawar merah menuju kota. Entah untuk
keperluan apa. Aku tak tahu, aku tak peduli.
Aku tak tahu nasib pria tua itu selanjutnya. Tapi
firasatku mengatakan, ia sudah pergi. Syukurlah aku masih selamat meski darah
segar mengalir deras di kepalaku.
Bau amis tercium jelas di hidungku. Mataku buram. Rasa sakit menyergapku.
Pedih. Perih.
Nafasku tengengah-engah.
Aku langsung di larikan ke rumah sakit ini. Beberapa orang dengan pakaian
putih menggotong ku masuk ke dalam ambulan. Sesampainya di dalam ambulan. Aku
melihat seorang gadis dengan gaun merah duduk di sebelah tempat ku berbaring. Aku tak tahu apa yang ia lakukan dalam ambulan itu. Aku
tak tahu dari mana ia masuk. Tak ada seorangpun petugas ambulans yang
menegurnya. Seolah gadis itu hanya aku yang dapat melihatnya. Ternyata benar.
Hanya aku yang mampu melihatnya. Para petugas ambulan keluar begitu saja dari
ambulan.
Rasa sakit akibat
luka di kepalaku kian menyiksa ku. Aku menjerit. Merengek kesakitan. Mungkin
sebentar lagi aku pingsan. Mungkin juga mati. Tangisan ku makin menjadi-jadi.
Aku sungguh butuh pertolongan. Namun, gadis itu hanya diam. Dia terpaku menatapku
yang tengah kesakitan. Seketika, aroma yang familiar tercium jelas. Meski
mataku buram, aku sungguh mengenal aromanya. Aku tahu siapa dia. Aku sungguh mengenal gadis itu dari aromanya.
Gadis itu mendekatkan wajahnya ke telingaku seraya berbisik . . .
.
.
.
.
“ Don’t wanna hurt you “ ditulis oleh Fajar R. Hidayat
Rabu, 29 Mei 2013
Cerpen : Cintaku Semanis Wajik
Cerita ini murni
fiktif atau karangan belaka. Bukan pengalaman gue, kok. Gila aja gue punya
pengalaman seburuk ini. Malu juga buat di-share. Tapi biarpun ini karangan,
semua nama-nama yang diceritakan di sini asli dan emang beneran ada orangnya. Mulai dari Ayu (Eriyanti Rahayu), terus Icha
(Riza Aulia), Kiki (Rizki Widiastuti),
and Haris (Haris Itsar). Thank you, friends :D
CEKIDOT
18.30 Waktu
Indonesia bagian Barat. Abis selesai sholat kerjaan gue ya kayak biasa. Cuma
tidur-tiduran doang di kasur. Bingung mao ngapain lagi. Mau maen, tapi capek.
Yaudahlah bercinta aja sama guling. Hehehe. Rumah sepi kayak kuburan. Nyokap
bokap lagi ke Jogja, Kakak gatau maen kemana. HP ? lebih sepi dari kuburan.
Gila gak tuh !
Padahal kan, gue
ganteng . . Maksudnya, Ya biasa-biasa aja sih sebenernya. Cuma . . ya masa sih
ga ada cewek yang sudi buat ngebunyiin HP gue? Sedikit aja ! Nasib banget jadi
jomblo. Tiba-tiba HP gue bunyi. Bukan bunyi lagi, tapi getar. Cetar membahana,
angin topan, badai catrina. Alhamdulillah Ya Allah . . . Akhirnya ada juga yang sms gue. Setelah
sekian lama HP gue ngejomblo gara-gara gue jomblo juga. Gak jadi nangis deh
gara-gara HP sepi.
Huhh. Dan
sekarang HP gue bunyi . . Aaaaaaaahh seneng banget Tuhan . . .
Jingkrak-jingkrak di atas kasur. Eh, tunggu dulu. Siapa sih yang sms? Sampe
segitu senengnya gue. Oke, kita cek dulu. Eh dari Ayu. Yah wajarlah kalo gue
seneng banget gini. Ayu itu cewek yang gue taksir udah lama. Dia emang gak
cantik sih. Tapi manis . . . Ish, manis banget kayak kue wajik !!
Cepet-cepet gue
baca deh SMS-nya. “ Jadi ke rumah gue? “ begitu smsnya. Wanjirrrr ! Gue lupa.
Malam ini kan gue ada janji ke rumah dia. Aduuhhh, bego banget sih gue. Masa
bisa lupa sih. Buru-buru deh gue bales SMS-nya. Daripada dia ngambek, ye ‘kan?
“ Jadi kok, Yu. Bentar ya gue makan dulu “. Gak pake pikir panjang lagi.
Langsung kiriiiiiim !!
Gak lama kemudian
dia bales SMS gue “ Oh yaudah “. Masa sih cuma ‘oh yaudah’ doank ? Apa kek, ini
kek, itu kek. Tambahin ‘selamat makan ya sayang ^^’ gitu kek. Ngarep gilaaaa !!
Ya gapapa ngarep. Daripada ‘Oh yaudah’ doank. Nyesek !!
Ah tapi gapapa
lah. Gue harus nyiapin hadiah buat dia yang udah gue beli kemarin. Jadi
ceritanya kemarin itu Ayu ulang tahun. Nah gue mao ngasih dia kado. Buku Kumpulan
Rumus Matematika. Butuh perjuangan juga nyari tuh buku. Untung di bantuin sama
temen gue, Haris. Gue yakin Ayu pasti seneng banget gue kasih buku itu. Dia kan
cinta banget sama matematika.
Dan selain gue
mao ngasih kado buat dia. Gue juga mao nembak dia. Ahay ! Cihuy banget. Soalnya
dia baru aja putus minggu lalu. Dan belum lama dia curhat ke gue. Gue sih cuma
bilang “ Sabar ya, Yu. Nanti juga lo bakalan dapet yang lebih baik dari dia”.
Ya, dia bakalan dapet yang lebih baik. Yaitu Gue ! Gue ! Gue lebih baik
daripada mantan-mantannya. Gue yakin.
Tapi karena
kemarin gue disuruh lembur sama bos gue di perusahaan tempat gue PKL. Jadi gak
jadi ke rumah Ayu. Dan malem ini gue harus jadi kerumah Ayu. Gue harus kasih
kado ke dia. Gue harus nembak dia. Bodo amat, pokoknya harus diterima. Ga mao
tau !
Oke, kado udah
siap. Tinggal makan dulu deh. Buru-buru deh gue ngacir ke dapur. Nyari makan.
Ah, untung Mama sebelum pergi udah masak rendang daging. Yeaay, makan enak !
Satu suap, dua suap. Hmmm, nanti kalo gue udah jadian sama Ayu nanti pasti kita
bakalan main suap-suapan. Najis ! Lebay banget. Hahahaha
Ga kerasa makan
kalo sambil bayangin Ayu. Gak taunya udah bersih aja tuh piring. Rendang yang
pedes jadi manis. Gila, banyak juga gue makan. Sampe begah banget nih perut.
Gak kuat jalan. Ah tapi kan gue harus ke rumah Ayu. Udah ah nanti ke buru
malem. Yuk capcus buruan.
Gak lupa gue bawa
kadonya. Hehehe. Berhubung rumah Ayu sama rumah gue gak terlalu jauh. Cuma beda
RT doang. Hehehe, Jadi yaudah deh jalan kaki aja. Lagipula di jalan kan bisa
sekalian nyusun kata-kata buat nembak Ayu. Hehehe.
Duhh cape juga
jalan kaki. Aus banget gue. Padahal kayaknya deket banget deh. Tapi udah cape
banget, aus pula. Mungkin karena tadi gue minum cuma dikit abis makan. Yaudah
deh mumpung ada warung, berenti dulu deh.
“ Bu, Akuwa
gelasnya satu, ya? Yang dingin. ” gue langsung order pesenan gue ke waiters
warung.
And gak lama
kemudian . . . Cling ! Menu yang gue pesen udah di tangan. Gue taroh dulu kado
buat Ayu di atas etalase warung. Langsung sedoooooooot sampe abis. Gila aus
banget. Lega rasanya lagi aus minum air dingin.
Abis itu gue
langsung nanya bill gue ke waiters warungnya. “ Berapa, bu? “.
“ Gopek bang “
jawab si waiters warung yang mukanya dikeriput-keriputin gitu.
Bang . . bang ..
Emang nama gue Bambang?! Nama gue Fajar. Aneh banget sih manggil abang. Panggil
Mas kek. Atau kakak kece gitu. Gue ngedumel dalem hati. Gak suka aja dipangging
abang. Oke, balik lagi ke masalah bill. Masa sih cowok seganteng and sekeren
gue cuma beli air yang harganya gopek? Kayaknya gak level deh. Genapin aja deh
biar seribu. Hehehe. Seenggaknya seribu lebih baik daripada gopek.
Beli apa lagi,
ya? Ah, ada kue wajik ! Imut banget tuh kue. Udah kecil pake dibungkus kertas
warna-warni gitu. Pengen gue pacarin tuh kue. Eh tapi, inget kue wajik jadi
inget Ayu.
“ Ini berapa,
bu? ” tanya gue sambil ngangkat kue wajik yang dibungkus kertas warna merah.
“ Gopek mas “
jawab si waiters. Nah gitu kek. Eh tapi kok waiters ini bisa tau isi hati gue
sih? Jangan-jangan dia . . . . Ah bodo amad lah.
“ Yaudah sama ini
satu. Jadi Rp. 1000, ya Bu? Ini uangnya ” akhirnya gue beli kue wajik itu satu
sambil kasih uangnya.
Oke deh sekarang
kita capcus lagi ke rumah Ayu. Tinggal sedikit lagi nyampe rumah Ayu. Gak
taunya masalah besar terjadi ! Gue mules. Anjrit sakit banget perut gue.
Aaaaaahh, Tuhan masa harus mules sekarang sih? Nanti aja yaa Tuhan.
Duh mampus gue !
Gue mulai keringet dingin. Bulu kuduk gue berdiri semua. Gila, ga enak banget
nahan berak. Masa iya sih gue pulang lagi? Udah setengah jalan ini. Dikit lagi
sampe, lanjutin aja lah. Tahan, Jar ... Tahan. Wahai Pantatku yang mulus dan shine bright like a diamond. Nanti dulu
ya eeq nya. Nanggung nih. Ga lama kemudian sampe juga di rumah Ayu.
“
Assalamualaikum “ gue ucap salam dulu biar keliatan alim.
“ Wa’alaikum
salam “ jawab orang yang ada di dalem. Kayaknya nyokapnya Ayu. Gue inget banget
suaranya.
“ Eeeee ....
Ayu nya ada gak, Bu ? “ tanya gue. To the point ajalah udah ga nahan ini.
“ Eh, Fajar.
Masuk dulu, Jar. Ayunya lagi main sama Icha, sama Kiki. Bentar ya ibu panggilin
dulu. Masuk aja, Jar. Titip rumah ya, Jar” kata nyokapnya Ayu.
“ Eeee . . . I
.. ya .. buu .. “ iya aja deh biar cepet.
Ah masa gua
malah suruh jagain rumahnya sih ? Padahal gue lagi ... Aaaaah EMERGENCY !!
Telepon 911 buruaaaaan !! Udah nih perut ga ilang-ilang mulesnya. “Anji . . .”
Ah, jangan sampe gue keluarin kata kotor itu.
Aaaaaaah,
Nan eotteohke ? What should i do?
(SISTAR_Loving You)
Akhirnya gue
cuma bisa duduk di teras rumahnya Ayu. Sambil berharap mules gue buruan pergi.
Kaos, kemeja, and celana gue udah basah gara-gara keringetan.
Peluhku berjatuhan, menikmati sentuhan.
Perasaan yang teramat dalam . . .
(Agnez Monica _ Rindu)
Berjuang hidup
dan mati cuma untuk nahan berak. Ya ampun, sial banget hidup gue. Sabar, gue
harus sabar. Semua akan indah pada waktunya. Akhirnya Ayu dateng juga. Tapi dia
gak sama nyokapnya. Gak tahu kemana nyokapnya. Mungkin sekarang nyokapnya yang
maen sama Icha, sama Kiki. Hahahaha, Huss ga boleh gitu !
“ Sorry ya
Jar. Tadi abis ngobrol . . . “ belum selesai dia ngomong udah gue putus duluan.
“ Sama Icha,
sama Kiki ‘kan? “
“ Iya. Kok tau
? Ohiya, mau minum apa, Jar ? “
“ Entrostop “
jawab gue spontan. Wanjir ! Gue ngomong apa sih ?
“ Hah? Apa?
Gue ga denger “ tanya Ayu lagi.
“ Ah, enggak.
Gak usah repot-repot. Tadi udah beli minum kok. Udah sini gue mao ngomong “ maksa
banget kesannya. Tapi bodo amat lah, gue udah ga kuaaaaaaat !!!
“ Ada apa sih,
Jar ? “ lagi-lagi Ayu keluarin pertanyaan gak berbobot.
“ Jadi gini.
Kemaren kan lo ulang tahun. Nah, gue gak bisa ngasih apa-apa nih. Sorry banget.
Gue cuma bisa kasih ini ... “ kata gue sambil nyari kado buat Ayu.
Aaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh
!! Kadonya manaa? Bagh, ketinggalan di warung !! Duh udah terlanjur ngomong
lagi nih.
“ Mao kasih
apa, Jar ? “ kali ini pertanyaan yang bikin otak gue beku.
Gue cari-cari
di kantong kemeja .. dan gue cuma nemuin . . . KUE WAJIK !!
“ Gue mao
kasih ini, Yu. Kue wajik “ yaudahlah apa adanya aja.
“ Eh ? Serius,
Jar ? “ lagi-lagi Ayu nanya.
“ Iya, serius.
Maaf ya gue cuma bisa kasih itu aja. Selamat Ulang Tahun, Eriyanti Rahayu. Yu,
udah ya? Gue pamit sekarang aja. Gue lagi buru-buru “ kata-kata itu keluar begitu
aja dari mulut gue. Mungkin udah terlalu mules and terlalu malu karena cuma
ngasih kue wajik yang harganya gopek. Yaa Tuhaaaan, malu banget gue !
“ Eh, iya,
Jar. Makasih, ya? Kok buru-buru? “ ujar Ayu.
“ Sama-sama.
Udah, ya. Kirim salam buat nyokap lo. Gue pamit dulu. Dadaaaah “ gue langsung
cabut dari situ. Langsung ambil langkah seribu kaki buat balik ke rumah. GUE
MAO BERAK !!
Ya ampun. Udah
kebelet berak, kadonya ketinggalan di warung, cuma ngasih kue wajik, udah gitu
gak jadi nembak lagi. Aduuuuuuuhhhhhh ... Ancur banget gue malem ini. Gue
sengaja lewat warung itu lagi dan TERNYATA WARUNGNYA UDAH TUTUP !!
Udah lah,
emang malem ini gue apes banget. Udah lah biar aja tuh kado buat waiters warung
yang mukanya di keriput-keriputin itu. Di jalan gue cuma bisa berdo’a supaya
gue gak eeq di celana. Apapun gue baca. Ayat Qursy, Al-Ikhlas, An-Nas pun gue
baca. Dan akhirnya gue sampe juga di rumah. Dan gue langsung ngacir ke kamar
mandi. Dan langsung buka celana n’ nongkrong di WC.
Dan inilah
saatnyaaaaaa !! “ Broot “ pantat gue
yang mulus dan shine bright like a
diamond itu teriak alias kentut. Dan setelah itu . . . What? Apa-apaan nih?
Masa gue udah gak mules lagi? Jadi gue Cuma mao kentut doang? Waaaaaaahhh,
pantat sialaaaan !!! Dengan perjuangan hidup dan mati buat nahan, ternyata gue
cuma mau kentut doang?! Aaaaaahh ! Yaudahlah kalo begitu. Relain aja. Hari ini
emang hari yang sial buat gue. Hiks :(
Kembali ke
aktifitas awal, tiduran di kasur. Dan sekarang HP gue bunyi lagi. Ada satu sms
masuk. DARI AYU LAGI !! Duh gua harus bales apa nih?! Gue buka sms dari dia. “
Makasih ya, Jar. Kue wajiknya. Enak kok. Maniss “ begitu sms-nya. Belum sempet
gue baca. Ada 2 SMS masuk lagi secara bersamaan gitu.
What ?? Yang
satu dari Icha dan yang satu dari Kiki. Mati gue. Sms apa ya mereka?
SMS Icha
“ Ciee Fajar
ngasih Ayu wajik. Hahahahaha, so sweeet banget wajiknya “
SMS Kiki
“ Echie, fajar
ngasih ayu wajik. Hahahaha, maniss banget lho wajiknya. Beli di warung bang
Chae, ya? hahahaha “
Wanjrit !
Ternyata wajiknya di makan bertiga sama mereka. Dan ternyata mereka kenal sama
si pemilik warung yang emang ngejual wajik itu. Uhh, malu banget gue. Dari ke
tiga SMS itu gak ada satupun yang gue bales. Gue cuma bisa nangis
sekenceng-kencengnya di kamar. Ga peduli
deh dunia mao ngomong apa ke gue. GUE
MALU !! Mamaaaaaaaa, i miss you . . . . :(
Malam ini gue
akhiri dengan nangis. Abis itu tidur. Sejak saat itu, jangankan buat nembak
Ayu. Ketemu Aja gue malu. Begitu juga sama Icha, sama Kiki. Hufft. Biarlah
lupain aja masalah itu.
Soal cinta?
Uhhh, Cintaku Semanis
Wajik !!
Rabu, 01 Mei 2013
Cerpen : Perang Terakhir (Last War)
Kawan, ingin ku ceritakan sesuatu padamu. Sesuatu yang takkan pernah ku lupakan. Sesuatu yang sangat ku sesali. Sesuatu yang selalu membuatku menangis saat mengenangnya. Sesuatu yang takkan ada seorangpun yang ingin mengalaminya. Apakah itu? Itulah kematianku.
Hari itu, hari di mana aku mati. Ku kancing bajuku dengan terburu-buru. Selepas berpakaian aku segera menyiapkan barang bawaanku. Golok, celurit, pedang dan yang lainnya takkan ku lupa. Hari ini aku akan berperang. Bergegaslah aku berangkat menuju medan perang yang begitu hebat. Medan perang yang sangat ku rindukan.
“ Ma aku pamit dulu “ teriakku tuk pamit pada ibuku. “ Jangan menginap di rumah temen kamu lagi, hari ini Mama masak makanan kesukaan kamu loh “ pinta ibuku. “ Hari ini aku pasti pulang, Ma. Aku janji aku pasti pulang “ sahutku. Setelah itu aku langsung pergi meninggalkan rumahku, meninggalkan ibuku sendirian. Aku tak mencium tangannya. Aku tak ucap salam untuknya. Maafkan aku ibu, aku tak sabar. Aku tak sabar untuk berperang. Aku tak sabar memenggal kepala musuhku.
Sepanjang jalan wajah ibuku selalu mengambang di pikiranku. Wajahnya yang mulai keriput tak bisa lepas dari otakku. Perasaanku mulai tak enak. Namun aku harus buang perasaanku itu. Aku akan berperang, bukan? Aku harus konsentrasi.
Sesampainya di medan perang aku bergegas menemui teman-temanku. Mereka tersenyum lebar. Mereka kegirangan sebagai sambutan untuk panglima perang mereka yang telah datang. “ Gimana senjata lu? Lengkap gak? “ tanya salah satu kawanku. “ Weiits, iyalah. Gue kan udah tak sabar. Gue yakin hari ini kita menang lagi” jawabku dengan nada sombong.
Setelah itu kami berbincang untuk mengatur strategi peperangan nanti sembari menunggu kawanan musuh kami datang dan menyatakan siap. Kami terbakar api semangat. Kami tenggelam dalam rasa tak sabar. Hingga akhirnya waktu yang kami tunggu-tunggu tiba. Musuh kami tiba di tempat. Namun aneh, jumlah mereka sangat sedikit. Kalah banyak dengan jumlah kawananku.
Dengan jumlah sedikit itu mereka takkan bisa menang dari kami. Kami akan menghabisi mereka satu per satu. Takkan ada yang tersisa. Mereka bukan tandingan kami. Dari kejauhan kami melihat mereka. Wajah mereka begitu pucat, nampaknya mereka ketakutan. Seperti anak kucing kehilangan induknya. Selain itu senjata mereka pun sangat minim.
“ Friends, hari ini kita pasti menang “ kataku pada kawan-kawanku. Mereka terseyum seraya mengiyakan perkataanku. Satu persatu dari mereka mulai maju. Begitu juga dengan pihak kami. Ku perintahkan bawahanku untuk maju pertama sedangkan aku hanya mengawasi dari jauh. Pertarungan hari ini sangat sengit. Matahari membakar ubun-ubun kami hingga berasap. Asap semangat yang sudah lama kami tak rasakan.
Para pejalan kaki lari terbirit-birit pergi meninggalkan tempat itu. Mereka takut kena sasaran kami. Melihat sekelompok pelajar tauran adalah hal yang mengerikan bagi mereka. Maka dari itu mereka pergi ke tempat yang lebih aman. Semoga saja mereka tak memanggil polisi.
Pertempuran berlangsung cukup lama. Namun ada hal ganjil yang terjadi. Astaga, apa ini? Prajuritku terluka sedangkan pihak musuh masih utuh tanpa sedikitpun goresan. Ku perintahkan lagi prajuritku yang lainnya untuk maju. Namun sama saja, makin banyak yang terluka sedangkan mereka tidak. Prajuritku mulai sekarat.
Kami mulai bingung. Akhirnya tanpa pikir panjang kami semua maju melawan mereka. Tak lagi ku pedulikan prajuritku yang tergeletak di aspal panas. Tak lagi ku pedulikan matahari yang menyengat. Aku harus menang.
Bagus, pihak musuh mulai terluka. Aku berhasil menyayat tangan musuhku hingga daginggnya tampak. Pedangku ini memang tajam. Musuh kami mulai berjatuhan. Sebagian dari mereka mulai sekarat. Kami mulai merasa senang. Gembira tak karuan.
Kami menghina mereka yang tengah sekarat. Mencaci, memakinya sepuas hati kami. Namun anehnya mereka tak menunjukan wajah menyesal maupun takut, mereka malah tersenyum dingin. Cacian kami semakin menjadi-jadi. “ Mati aja lu “ ujar salah satu dari kami.
Saat itu kami lengah. Kami terlalu bahagia. Kami tak menyangka musuh kami bertambah banyak. Mereka keluar dari gang-gang di tepi jalan. Jumlah mereka begitu banyak. Badan mereka pun lebih besar dari badan kami. Kurasa mereka para alumni sekolah musuh kami. Kali ini jumlah kami yang kalah banding. Jadi inilah strategi mereka? Sial, mereka benar-benar licik. Kenapa aku tak dapat menebaknya? Pihakku sudah mulai sedikit karena sudah banyak yang terluka. Kami takkan sanggup melawan mereka yang begitu banyak.
Namun kami tak mau kalah. Hari ini kami harus menang. Dengan jumlah seadanya kami berusaha sekuat tenaga melawan mereka. Kami berusaha untuk tak takut. Rasa takut hanya untuk orang lemah bagi kami.
Ku mulai pertarunganku dengan salah seorang alumni dari pihak musuh. Badannya begitu kekar. Kulitnya hitam legam. Wajahnya sangat sangar. Suaranya sangat berat. “ Sini lu maju “ tantangnya padaku. “ Lu pikir gua takut? “ sahutku.
Dengan pedang kesayanganku ini aku berhasil menggores pipinya yang hitam. Dari bibir hingga matanya mengeluarkan darah yang amat segar. Dia bergerak mundur, seolah takut akan serangan keduaku. Aku tersenyum. Aku bahagia melihat darah itu mengalir begitu deras. Matahari yang terik membuatku haus. Membuatku ingin menenggak darah itu hingga habis. Aku tertawa kegirangan.
“ Mampus lu “ caciku padanya sembari meludahi wajahnya. Tiba-tiba saja ku dengar kawanku berteriak memanggil namaku “ Jamal, awas Mal di belakanglu !! “. Begitu mendengarnya aku segera menoleh kebelakang. Memastikan apa yang ada di belakangku.
Sebuah linggis melayang menghantam wajahku. Seorang musuhku memukulku dari belakang. Aku pun hampir terjatuh. Aku berusaha mundur karena kepalaku sangat pening. Pukulan itu sangat menyakitkan. Mungkin saja wajahku sudah membiru. Sebegitu kuat aku menghindar, namun akhirnya aku terjatuh bersama pedangku ke aspal yang begitu panas. Aku jatuh tengkurap. Aku tak kuat menahannya. Ku pejamkan mataku sejenak untuk menahan rasa sakitnya. Aku segera bergegas bangun. Namun sial, salah seorang alumni menarik seragam sekolahku hingga lecak. Ia menarikku seraya menyuruhku berdiri. “ Bangun lu ! “ perintahnya.
Astaga, apa-apaan ini? Saat ku buka mataku. Mereka sudah mengepungku. Tanpa basa-basi mereka langsung memukulku lagi dengan linggis. Kepalaku, punggungku, perutku hingga terasa sakit yang teramat sangat. Tak kuat lagi aku menahannya. “ Ampun bang “ pintaku untuk menghentikan ini semua. Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku.
Namun mereka tak mengerti kata ampun. Mereka tak mengerti bahasa manusia. Mereka seperti binatang. Mereka terus memukulku hingga aku terjatuh. Kini darah segar mulai keluar dari mulut, hidung, hingga telingaku. Namun mereka terus saja memukulku secara membabi buta.
Mereka belum puas melihatku menderita. Salah satu dari mereka mencuri pedangku, ia memungutnya dari aspal saat ku jatuhkan tadi. Astaga, dia akan membunuhku. Tanpa banyak bicara lagi pedang itu menembus kulit perutku. Menyayat perutku hingga terlihat isi perutku. Pedangku yang sangat ku sayang kini malah menyayat perutku sendiri. Aku berteriak sekuat tenaga, menahan rasa sakit yang teramat sangat. Aku menangis. Aku benar-benar menangis.
Samar-samar ku dengar seseorang berteriak “ Woy, polisi dateng. Cabut buruan “. Mereka langsung berlari terbirit-birit meninggalkan tempat itu. Bagiku itu adalah kabar baik. Para polisi itu akan pasti akan membawaku kerumah sakit. Tak masalah aku dipenjara, yang penting aku hidup. Aku tak mau mati di sini. Aku berharap polisi cepat datang.
Di saat semuanya lari terbirit-birit meninggalkan tempat ini. Orang yang menyanyat perutku masih berdiri menatapku dengan tatapan dingin. Padahal teman-temannya sudah mengajaknya pergi. Namun dia masih di sini menatapku yang sedang sekarat.
Aku tak tahu apa yang akan dia lakukan. Perlahan ia buka resleting dan kancing celananya. Dia buka pula celana dalamnya. Dia menunjukan kelaminnya yang sangat besar. Dia mengarahkannya ke wajahku. Sialan, dia mengencingiku dengan santainya. Aku berusaha menghindar namun aku tak sanggup bergerak lebih banyak lagi. Bagiku ini adalah hinaan terbesar, ini lebih dari menghina. Dia benar-benar menjatuhkan harga diriku.
Dia benar-benar bajingan. Aku ingin sekali marah. Aku ingin sekali membalasnya. Namun apadaya rasa sakit ini lebih besar dari hinaannya. Aku hanya dapat menahan amarahku dan menahan rasa sakit ini.
Setelah itu dia rapihkan lagi celananya. Lalu dia berjongkok mendekati wajahku yang telah memar ini dan berkata “ Ini balesan buat lu karena lu udah hamilin adek gue, Riska. Rasain penderitaanlu sekarang. Adek gue lebih menderita daripada lu sekarang ”. Lalu dia melayangkan pukulannya sekali lagi tempat ke mataku. Membuat pandanganku benar-benar kabur. Buram, hitam, tak jelas. Aku tak dapat melihat apa-apa. Aku juga tak dapat mendengar apa-apa.
Kini ku tahu mengapa dia begitu marah padaku. Dialah kakaknya Riska, pacarku yang ku hamili. Kini Riska sudah mengandung anakku selama 2 bulan. Itulah buah hubungan terlarang kami. Itulah hasil bisikan iblis. Iblis yang selalu mengoda kami selama 2 tahun. Hingga akhirnya kami berani melakukan perbuatan hina itu.
Hanya wajah Riska yang kini dapat ku lihat dalam benakku. Serta kata-katanya yang hingga kini masih terngiang di telingaku “ Sayang, aku hamil. Kita harus nikah “. Begitulah katanya. Perkataan itu membuat kepalaku bertambah sakit. Di satu sisi aku ingin mati agar aku terbebas dari masalah kehamilan Riska. Di sisi lain aku ingin tetap hidup untuk meneruskan sekolahku. Hingga aku sukses. Barulah aku mau menikah dengannya.
Karena dia wanita yang sangat ku sayangi setelah ibuku. Aku mencintainya sangat tulus sama seperti aku mencintai ibuku. Keduanya sangat berharga untukku. Kini wajah ibuku yang melayang-layang di benakku. Senyumnya yang begitu indah membuatku meneteskan air mata. Air mata bercampur darah. Kini suara ibuku yang terngiang di telingaku. “ Jangan menginap di rumah temen kamu lagi, hari ini Mama masak makanan kesukaan kamu loh “. Kalimat terakhir yang ku dengar dari bibirnya yang merah.
Semua itu hanya menambah rasa sakitku. Membuat dadaku sesak. Sangat-sangat sesak hingga aku kesulitan bernafas. Matahari bertambah panas. Namun polisi belum juga tiba. Aku tak dapat merasakan kakiku lagi. Ku pejamkan mataku lagi. Lalu ku perlahan membuka mataku lebar-lebar. Beberapa orang berdiri mengelilingiku. Aku tak tahu siapa mereka. Aku tak tahu apa yang mereka inginkan. Aku tak tahu dari mana mereka datang.
Namun wajah mereka begitu hitam. Lebih hitam dari warna hitam yang pernah kulihat. Di tengah wajah hitam itu, mata merah mereka begitu menyala. Mereka menatap ku dengan tajam. Mendelik menyeramkan. Lalu salah satu dari mereka mendekat dan berseru kepadaku “Wahai jiwa yang busuk keluarlah menuju murka dan kebencian dari Allah". Seketika itu aku terkejut dan aku merasa ada sesuatu yang mulai hilang dari tubuhku. Mulai dari ujung kaki terus menjalar hingga ke perut. Aku tak lagi merasakan apa-apa diperutku. Dan kini menjalar hingga ke tenggorokanku.
Seketika itu aku sadar itulah rohku yang akan keluar meninggalkan ragaku untuk selamanya. Aku teringat akan janjiku pada ibuku tadi pagi “ Hari ini aku pasti pulang, Ma. Aku janji aku pasti pulang “. Inikah semua itu? Aku memang harus pulang hari ini. Pulang ke alam barzakh. Aku takkan pulang kerumah. Maaf kan aku ibu, aku hanya bisa menangis dalam hati.
Aku rasakan rasa sakit yang teramat sangat. Lebih sakit dari sayatan pedang. Itulah rasa sakit saat nyawaku merambat ke kepalaku. Hingga akhirnya aku mati. Mati dalam keadaan hina. Mati sia-sia dalam perang yang sia-sia pula.
Kawan, berjanjilah untuk tidak seperti diriku. Jangan kau ikuti langkahku. Sungguh aku sangat menyesal. Ceritaku belum selesai. Dan takkan ku lanjutkan lagi. Kenapa? Karena kau takkan sanggup mendengarnya.
Hingga saat ini. Hingga detik ini aku masih menyesal atas kematianku. Ku sia-siakan segalanya. Ibuku, sekolahku, uangku, kekasihku, bahkan nyawaku ku sia-siakan. Sungguh, akulah orang terbodoh di dunia. Akulah orang terhina di dunia.
Dulu ku tidur di ranjang yang empuk, di kamar yang nyaman. Kini ku tidur di tanah yang kotor, lembab, dingin, dan gelap. Dulu ku tertawa bersama teman-temanku di sekolah. Namun sekarang hanya tangisan yang dapat ku gemakan. Riska sayangku, jangan engkau menangis. Aku tak butuh tangisanmu, yang kubutuh hanya do’a darimu. Ibu maafkan aku yang telah menyianyiakan dirimu. Maafkan aku, do’akanlah aku di sini.
Ku takkan lagi bisa tertawa, ku takkan lagi bisa makan makanan enak, takkan lagi bisa tidur nyenyak. Karena aku tak sendirian di sini. Aku bersama mereka. Mereka yang selalu bertanya padaku. Bertanya pertanyaan yang takkan pernah bisa ku jawab. Pertanyaan itu ialah “ Siapa Tuhanmu? Siapa Nabimu? Siapa Imammu? Apa Agamamu? Apa Kitabmu? “. Dari semua pertanyaan itu, jawabanku hanyalah “ Aku tidak tahu “.
Sungguh tersiksa aku di dalam sini. Mereka selalu mencambukku dengan cambuk berduri. Seekor ular besar menggigit kelaminku berkali-kali. Wajahku bolong di makan belatung. Andai aku bisa kembali hidup, meneruskan sekolahku, masa mudaku, menikahi Riska. Andai aku bisa hidup kembali untuk mencari tahu siapa Tuhanku, siapa Nabiku, siapa Imamku, apa Kitabku, apa Agamaku. Andai ...
Tamat
Cerita ini hanyalah karangan belaka. Mohon maaf apabila ada kesamaan nama, tempat, kisah, maupun peristiwa. Cerita ini diserap berdasarkan Qur'an dan Hadits. Cerita ini juga diserap dari kisah Malaikat Maut di Wikipedia.
Langganan:
Postingan (Atom)







